-->

Aku sangat sedih, ketika dia mengatakan ingin putus. Tak ada alasan yang dikemukakannya, selain, "Kamu sudah tidak cocok lagi untukku."

Delapan tahun aku mengenalnya, mulai dari masa sekolah di SMP. Bersamanya aku merasa bahagia, karena aku seolah menemukan teman untuk berbagi kebahagiaan juga kesedihan.

Harapan untuk menjadikan pasangan dalam hidupku itu semakin kuat dalam dari, namun ternyata itu tidak akan pernah terjadi.

Aku sakit jiwa, aku menjadi malas mandi, cuek dengan penampilan bahkan aku menjadi perokok, sesuatu yang tidak aku sukai itu menjadi teman menyendiri.

Lama dalam kesendirian, membuatku merasa asing dengan diri sendiri. Aku mulai bercermin, apa yang telah terjadi.

Kata-kata orang lain mulai masuk ke hati, "Mungkin Dia bukan wanita terbaik untukmu"

Saya mengangguk, mulai membawa hati akan hal itu. "Carilah lagi." Kata berikutnya mulai membuka jalan terang, lantas aku berpikir untuk apa aku terus terpuruk hanya memikirkan seorang wanita, bukankah hanya kerugian yang aku dapat?

Perlahan aku bangkit, aku meyakini bahwa apa yang aku inginkan di dunia ini tak selamanya dapat kumiliki.

Perlahan aku menyadari bahwa Tuhan akan memberikan pendamping yang terbaik untukku.

Namun ketika aku mendengar bahwa seorang yang pernah dekat itu akan menikah, ada sedikit rasa penyesalan. Nyatanya aku belum sembuh. Tapi, aku harus bersyukur keyakinan bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik terus berkobar di dalam hati. Melepas kepergiannya, melepas untuk memberi kebahagiaan kepadanya, membuatku mendapatkan seorang yang benar-benar lebih baik untukku, tak lama setelah itu, aku pun memiliki pasangan. Aku baru menyadari betapa pasanganku adalah pasangan terbaik untukku. [li]


Sumber : pengalaman pribadi S,

Foto: niknashram.com [re]
Advertisement